pos

Bisingnya Tokyo Shoegazer dalam Album Crystallize

Sebagian orang mungkin mengenal Jepang dengan keunikan budaya populernya. Dengan cosplay dan animasinya yang seakan menjadi ciri khas negara tersebut. Tapi tidak banyak yang menengok skena musik bawah tanah di Jepang. Lebih-lebih skena musik shoegaze.

Shoegaze sebagai sebuah aliran musik menjadi populer di Jepang sejak periode ’90-an. My Bloody Valentine, band shoegaze asal Amerika, dengan album Loveless adalahi titik mula perkembangan musik shoegaze di Jepang. Besarnya pengaruh musik My Bloody Valentine di Jepang, begitu terlihat, lebih-lebih dengan munculnya album Yellow Loveless pada tahun 2013, yang diisi oleh berbagai band shoegaze Jepang yang sudah cukup matang.

Tokyo Shoegazer sebagai salah satu band yang ikut menyumbang dalam album ini cukup menarik perhatian saya. Band ini dibentuk pada tahun 2010, tapi jauh sebelum itu, para personil didalamnya telah berkecimpung lebih dulu di dunia musik bawah tanah ataupun populer di Jepang. Beberapa personilnya dikenal sebagai punggawa Presence of Soul, acid android, 101A, dan Plastic Tree. Dengan genre dan karakter musik yang jauh berbeda, Tokyo Shoegazer jelas merupakan sebuah proyek eksperimen musik bagi mereka.

Dalam album Crystallize, pengaruh My Bloody Valentine terlihat jelas dalam karakter musik Tokyo Shoegazer. Lagu pertama yang berjudul 299 Addiction, dimulai dengan memainkan beragam jenis instrumen dengan demikian keras dan berisik. Bassline yang cukup sederhana menciptakan karakter yang cukup kuat dalam lagu ini. Lalu, dilanjutkan pada Just Alright, kebisingan yang memang menjadi ciri khas genre musik ini masih terus berlanjut. Eksplorasi noise dan ragam lapis suara yang dihasilkan, membuat lagu ini sangat layak untuk didengar.

Sementara itu, dalam Bright dan Silent Lies, kebisingan yang dirawat dalam lagu-lagu awal mulai ramah telinga. Lebih-lebih dalam Waltz Matilda, variasi gebukan drum dan lapisan noise yang begitu dalam memainkan mood pendengarnya dalam sekejap. Bagian pertengahan album ini, buat saya, begitu terdengar melankolis dan agak depresif.

Free, di penghujung album, menjadi satu-satunya lagu yang terdengar lebih cheerful. Dengan lebih banyak petikan gitar dan suara perempuan, suasana yang dibangun lagu ini benar-benar bertolak belakang dari lagu-lagu sebelumnya. Pada akhirnya, album ini ditutup dengan Back to My Place, dengan pola yang kurang lebih serupa dengan lagu-lagu di pertengahan album. Lagu ini pada akhirnya mampu menutup Crystallize dengan cukup apik.

Faisal Nur

Menulis untuk menjaga kewarasan // Φ